Thursday, August 23, 2012

JANJI DAN AMANAH ...

Beberapa hari telah berlalu ketika Rasulullah saw terpaksa berperang dengan musuh Islam. Dalam perang kali ini, musuh Rasulullah saw ialah sekelompok kaum Yahudi yang mempunyai niat buruk terhadap Rasulullah saw sehingga memaksa Rasulullah saw untuk berperang dengan mereka. 

Tentara umat Islam pada saat itu berhadapan dengan kesulitan bahan makanan dan tengah merasakan kelaparan.
 
Dalam keadaan seperti ini, beberapa orang tentara Muslim berbicang-bincang di antara mereka. Salah seorang dari mereka berkata, "Semoga Rasulullah saw sedang memikirkan jalan keluar. Kelaparan ini boleh menyebabkan sebahagian dari kita akan menyerah."
 
Yang lain menjawab, "Kelaparan dan kehausan merupakan hal yang lumrah dalam perang. Tetapi benar seperti katamu, kali ini keadaan kita amatlah berbeda, sudah tentu Rasulullah saw memikirkan jalan keluar. Namun, alangkah baiknya kita bersabar dan tidak meninggalkan Rasulullah saw sendirian dalam masa yang amat genting ini."
 
Di satu tempat yang tak jauh dari medan perang, di padang yang penuh dengan kehijauan dan keindahan, seorang penggembala Yahudi membawa kambing-kambingnya keluar untuk makan. Selama beberapa waktu, dia telah mendengar hakikat Islam yang membuat hati dan jiwa penggembala muda ini dipenuhi oleh panggilan Islam. Penggembala Yahudi itu berkata kepada dirinya sendiri, "Akhirnya sebagian orang yang keras kepala membuat perang ini terpaksa terjadi. Mungkin saat dan ketika ini waktu yang tepat bagiku untuk menemui Rasul dan mendengarkan hakikat agama ini dari kata-katanya sendiri."
 
Sejenak penggembala muda ragu-ragu, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah masuk akal baginya jika dia pergi ke tengah-tengah pasukan Islam dan melakukan pertemuan dengan Rasul, ataukah sebaiknya dia tinggal saja di antara kabilahnya dengan menanggung kegelisahan jiwa. Setelah beberapa saat duduk berpikir, akhirnya dia bangun menjawab panggilan hatinya dan bergerak ke arah tentara Muslim.
 
Tentara muslim yang sedang sibuk melakukan pengawasan, melihat sebuah sosok menghampiri dari kejauhan. Penggembala itu datang kian mendekat. Dia melangkah dengan hati-hati dan tangannya diangkat sebagai tanda menyerah. Dari kejauhan dia berteriak, "Wahai sahabat, bersabarlah. Aku hanyalah seorang penggembala. Aku telah meninggalkan kabilahku karena aku tertarik kepada agama kalian serta ingin bertemu dengan nabi kalian. Bawalah aku menemuinya."
 
Salah seorang dari tentara Muslim berkata, "Dapatkah kita percaya dengan kata-katanya?" Tentara yang lain menjawab, "Tampaknya dia bukan seorang penipu." Akhirnya tentara Muslim dengan penuh waspada menerima penggembala Yahudi itu dan berita mengenai kedatangannya sampai kepada Rasulullah saw. Penggembala Yahudi itu memperhatikan bahwa tentara muslim sedang berada dalam kekurangan makanan. Dia berpikir, bila ia menjadi Muslim, ia akan membawakan kambing-kambingnya untuk tentara Muslim.
 
Ketika bertemu dengan Rasulullah saw, penggembala itu amat terkesan dengan pandangan Rasulullah saw yang tajam namun penuh kelembutan. Rasulullah saw berkata kepadanya, "Apa yang ingin kau sampaikan padaku, wahai anak muda?" Pengembala Yahudi menjawab, "Telah lama aku memikirkan agama kalian ini.  Tuhan yang kalian sembah, adalah Tuhan yang aku cari sejak kecil. Aku mendengar tentang agamamu sebagai agama persahabatan, kasih sayang, persaudaraan dan persamaan. Mereka mengatakan bahwa Anda adalah pembantu orang-orang tertindas dan musuh orang-orang zalim. Aku mendengar bahwa engkau sedemikian pengasihnya sehinggakan semua orang yang tertindas merasakan ketenangan dan ketenteraman di bawah naunganmu. Dari senyuman yang senantiasa mengiringi kata-katamu, seolah-olah pada masa yang singkat ini, semua hakikat itu telahku lihat dengan mataku sendiri."
 
Ketika Rasulullah Saw melihat semangat dan gelora penggembala Yahudi itu, beliau paham bahwa hati anak muda tersebut telah siap menerima rahmat Ilahi. Rasulullah saw menyampaikan hakikat Islam kepada anak muda Yahudi itu dengan kalimat yang menarik dan penuh kelemah lembutan. Saat itu juga, anak muda itu melafazkan dua kalimah syahadah dan menjadi seorang Muslim.
 
Kemudian, penggembala itu berkata, "Wahai Rasulullah saw, tentaramu tidak mempunyai makanan yang cukup. Saat ini, aku sedang menggembala kambing-kambing tuanku di sebuah padang rumput yang tak jauh dari sini. Kini hubunganku dengan tuan pemilik kambing itu telah terputus. Aku ingin membawa kambing-kambing itu untuk tentaramu agar mereka tidak lagi kelaparan." Rasulullah bangun berdiri dan di hadapan pandangan ratusan tentara yang kelaparan, beliau menjawab, "Wahai anak muda, ketahuilah bahwa dalam agama Islam khianat merupakan salah satu dari kesalahan yang besar. Pergilah engkau ke kabilahmu dan kembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya." Si penggembala muda merasa sungguh terpesona terhadap kesetiaan Rasul kepada akhlak Islami. Dia menaati perintah Rasul itu dan kemudian bergabung dengan barisan umat Islam.
 
Kisah di atas amat baik untuk kita teladani. Dan semaklah sebuah hadis Rasulullah saw, "Ada tiga hal yang tidak boleh dilanggar oleh seorang muslim. Pertama, menepati janji kepada orang lain, baik Muslim atau Kafir. Kedua, berbuat baik kepada ibu dan ayah, baik mereka itu Muslim ataupun Kafir. Ketiga, memelihara amanah, baik pemberi amanah itu Muslim atau Kafir."

Sumber di sini

No comments: