Sunday, April 20, 2008

Takwa berarti kita menjaga diri kita. Manusia harus selalu memperhatikan dirinya. Manusia di samping harus mengawasi perbuatan dan amalnya—yakni mengawasi matanya, tutur katanya, telinganya dan tangannya—juga harus mengawasi hatinya. Ia harus waspada agar jangan sampai karakter haywaniah menguasainya ; waspada supaya hati jangan sampai cenderung pada hawa nafsu. Jangan sampai hati terpikat dan tertarik oleh suatu pesona yang menghinakan manusia. Manusia harus waspada terhadap sifat hasud (iri) yang menguasainya; waspada agar jangan sampai berniat buruk terhadap orang lain; waspada agar jangan sampai memberi jalan kepada waswas yang akan masuk ke dalam hati. Sebab, hati merupakan tempat segala keutamaan dan zikrullah serta cinta kepada wali-wali Allah dan cinta kepada sesama manusia. Manusia hendaklah mempunyai takwa pemikiran dan akal. Yakni, hendaklah ia menjaga akal dari penyimpangan: menjaganya dari kesalahan, menyelamatkannya dari tidakaktif dan angan-angan kosong, dan memanfaatkan akal dalam persoalan-persoalan kehidupan. Jadi, selalu waspada terhadap anggota tubuh, hati, pemikiran dan otak adalah (hakikat)ketakwaan.

Waspada Adalah Ciri Orang Yang Bertakwa


Ketidakwaspadaan kita menyebabkan kita banyak mengalami kesalahan dalam pelbagai sepak terjang kita. Banyak dosa kita lakukan karena kelalaian dimana kita tidak melakukan sebagaimana niat kita sebelumnya (yakni karena kita lalai maka amal kita tidak sesuai dengan niat baik kita sebelumnya) Kita kotori lidah kita dengan menghibah (mengumpat) , menuduh, menyebarkan gosip, dan berbohong secara keji. Tangan kita dan mata kita juga demikian. Jadi, kelalaian dapat menjerumuskan kita dalam bencana.


Bila kita benar-benar mewaspadai mata, lidah, tangan, tanda tangan, keputusan, tulisan, dan tutur kata kita maka tidak akan muncul banyak kesalahan dan dosa, baik yang besar maupun kecil. Bila kita mewaspadai hati kita, maka kita tidak terkena rasa dengki, sakit hati, kikir dan rasa takut tidak pada tempatnya. Di samping itu, tamak terhadap harta dan jabatan duniawi dan iri terhadap kehormatan dan harta orang lain tidak akan meresap dalam hati kita. Kewaspadaan ini merupakan jalan keselamatan bagi manusia. Dengan adanya kewaspadaan ini, manusia akan memperoleh akhir kehidupan yang baik:

"Dan akibat yang baik diperuntukkan bagi orang-orang yang takwa." Bila kewaspadaan ini dipertahankan oleh manusia maka kemungkinan kecil bagi dia untuk berbuat dosa. Keadilan seseorang pun bersumber dari kewaspadaan ini.



Buah Kewaspadaan (Muraqabat)



Kekuatan seseorang dan satu umat juga berasal dari kewaspadaan ini. Menuntut kebenaran dan sensitif terhadap kebenaran juga bersumber dari kewaspadaan ini. Kewaspadaan dan ketakwaan ini selalu bersama kita dalam seluruh kebaikan. Hidayah pun terwujud karena kewaspadaan ini. Kemajuan dunia dan akhirat juga berasal dari kewaspadaan ini. Saat kita benar-benar waspada maka fikiran kita pun dalam keadaan aktif dan hati kita pun tidak akan menuju jalan yang bengkok serta anggota tubuh kita pun tidak akan berada dalam kesalahan atau jarang melakukan kesalahan (dosa). Dunia dan akhirat berada dalam naungan takwa. Ini adalah pelajaran dari sunnah Rasulullah saw para sahabatnya. Dewasa ini kita membutuhkan pelajaran ini. Bahkan sejatinya bukan hanya saat ini, namun kita selalu memerlukannya.



Fasa zaman ini begitu penting bagi kita. Perhatikanlah bahwa kita adalah umat Islam. Dengan keinginan kuat majoriti masyarakat, kita dapat mendirikan suatu pemerintahan yang sesuai dengan keimanan dan keyakinan kita di negari ini. Apa tujuan pemerintahan ini? Apa tujuan umat ini?

Tujuannya adalah negari ini—dengan pemerintahan ini—mampu mengemukakan seluruh kebaikan, kemajuan, kebaikan dan keberkahan yang dijanjikan oleh Allah SWT terhadap umat yang beriman. Yakni (membentuk) suatu pemerintahan yang Islami. Yang dimaksud pemerintahan yang Islami adalah negara yang menjadikan Islam sebagai inspirasi kehidupan, sumber aktiviti, dan sumber motivasi. Tentu Islam yang tidak memiliki pemikiran yang bengkok; Islam yang tidak jumud lagi menyimpang; Islam yang tidak menciplak; Islam yang membangkitkan keberanian manusia; dan Islam yang memandu manusia menuju ilmu dan sains. Iaitu Islam yang terwujud pada abad pertama Islam dimana ia mampu merangkai suatu kumpulan yang berserakan menjadi puncak peradaban sejarah dan dunia, sehingga peradabannya dan pengetahuannya mendominasi dunia. Dominasi dan penguasaan pengetahuan yang juga mendatangkan kewibawaan politik, kemajuan ekonomi, dan keutamaan akhlak. Semua hal ini dapat terwujud bila memang negara dapat menzahirkan makna yang hakiki dari kata "Islami".

Semoga aku dan kita semua akan terus bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa dalam memimpin rakyat.

No comments: