Sunday, February 26, 2012

JANGANLAH MENCAMPAKKAN DIRI DALAM KEBINASAAN YANG DI SALAH ERTIKAN!!!

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ


Allah swt berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 195:

“Dan berinfaqlah kalian di jalan Allah, dan jangan jerumuskan diri kalian sendiri kepada kehancuran. Berbuatlah baik, karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”

Ada dialog singkat seorang murid dengan gurunya mengenai ayat tersebut dan pengorbanan Saidina Husain as cucu Nabi Muhammad saw.

Murid: Berdasarkan ayat tersebut, kita tidak boleh memaksakan diri untuk amar makruf nahi munkar kalau ternyata kita sendiri yang akan celaka dan binasa. Lalu apakah Saidina Husain as termasuk orang yang telah mencelakakan dirinya sendiri dengan usahanya menentang Yazid?

Guru: Ayat di atas adalah ayat yang berkenaan dengan infaq, khususnya infaq di jalan Allah, di jalan jihad; dan maksudnya adalah, jangan sampai karena lalai akan berinfaq kita mencelakakan diri sendiri. Dalam Ad Durr Al Mantsur dinukil bahwa Aslam bin Imran berkata: “Saat itu kami ada di Kostantinopel (saat ini disebut Istanbul), Aqabah bin Amir hadir dengan khalayak, dan Fadhalah bin Ubaid juga bersama khalayak Syam di sana. Pasukan yang sangat ramai dari Rom berbondong-bondong menuju medan perang untuk melawan Muslimin. Dengan segera kami mengatur barisan untuk menghadapi mereka. Tiba-tiba ada seorang lelaki dari pasukan kami dengan laju menuju gerombolan pasukan Rom dan menembus mereka hingga ke tengah. Lalu di antara kawan-kawan kami ada yang berkata, “Wah, orang itu telah mencelakakan dirinya dengan tangannya sendiri.” Abu Ayub Anshari, seorang sahabat nabi yang terkenal, bangkit dan berkata, “Wahai kawan-kawan, kalian telah menyalah artikan ayat ini (yakni ayat di atas). Ayat ini diturunkan kepada sekelompok orang Anshar. Saat Allah telah memenangkan agama dan nabi-Nya, mereka saling berbisik-bisik dan berkata, “Kini Allah telah memenangkan Islam. Pengikut dan pembela Islam juga sangat banyak. Harta kita pun telah terbuang sia-sia (karena diinfaqkan di jalan Allah). Jika kita menyimpan saja harta benda kita, pasti semuanya tidak akan terbuang sia-sia.” Lalu oleh karenanya Allah menurunkan ayat tersebut. Oleh karena itu, ayat tersebut berkaitan dengan sebagian orang yang enggan mengeluarkan hartanya di jalan Allah.”

Murid: Apa salahnya kalau memang ayat itu sebenarnya berkenaan dengan infaq, namun kata-kata “jangan kalian mencelakakan diri dengan tangan-tangan kalian” dianggap sebagai kaidah umum dalam Islam?

Guru: Memang tidak ada masalah. Hanya saja jika kondisi yang kita alami tidak selalu sama. Terkadang ada yang penting dan ada yang lebih penting. Jika yang lebih penting itu menuntut kita untuk berkorban, maka lain lagi ceritanya. Pada dasarnya dalam hukum-hukum Islam seperti amar makruf nahi munkar dan jihad, semuanya berhubungan langsung dengan bahaya. Namun karena tujuan lebih penting dari kerugian nyawa dan harta, maka tidak ada masalah dengannya.

Mencelakakan diri dengan arti yang negatif, seperti kehancuran, yang tidak memiliki nilai apapun selain kehancuran itu sendiri. Namun perbuatan-perbuatan lain seperti berperang di jalan Allah, yang mana hasilnya adalah kesejahteraan umat secara umum, bukanlah perbuatan yang mencelakakan diri dengan arti yang negatif tersebut. Justru di balik kerugian nyawa dan harta itu ada nilai positif yang sangat besar.

Contoh lain, misalnya jika ada seseorang yang mengorbankan diri bersama beberapa kawannya, yang berkat itulah ribuan nyawa lainnya dapat terselamatkan, apakah perbuatan mereka termasuk mencelakakan diri? Sama halnya dengan petani yang menebar bibit beras ke ladangnya. Jika kita melihat dengan kaca mata negatif, kita pasti berkata, “Buat apa petani itu membuang biji-biji beras ke tanah dengan sia-sia?” Padahal petani itu sedang menanamkan benih beras yang kelak jika tiba musim menuai petani akan mendapat keuntungan yang berlipat-lipat.

Saturday, February 11, 2012

PANDUAN MENDAMAI PERSENGKETAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِن فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ


"Dan jika ada dua golongan dari orang mukmin berperang maka damailah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat iniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang membuat iniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah: jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukimin adalah bersaudara dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al-Hujurat: 9)

Pemuda dan pemudiku...

Ayat di atas menjelaskan kepada kita semua bahawa dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat atau berjamaah (berorganisasi) sudah tentu akan ada perselisihan yang akan berlaku, sehingga kadang-kadang sampai ketahap paling kemuncak iaitu berperang diantara golongan mukmin. Janganlah hairan!


Oleh itu, jika berlaku perpecahan dan pertelagahan, sehingga akhirnya serang-menyerang antara satu sama lain, maka pendamai (pihak ketiga dari golongan mukmin) tidak boleh berpeluk tubuh melihat persengketaan itu, sebaliknya ia wajib bertindak mendamaikan keduanya.

Namun, sebagai pendamai harus mengetahui bila dan bagaimanakah memulakan perdamaian itu?

Pertama-tama, ketahuilah akar permasalah tersebut.Letakkan pada tempatnya. Periksa siapakah yang benar dengan adil.

Jika pihak yang salah mengakui, maka inilah yang terbaik.

Jika tidak, berusahalah hingga akar masalahnya hilang dari keduanya.

Jika salah satu dari kedua pihak berbohong dan berlebihan kemudian mula bertindak agak agresif sehingga mengasah parang dan ingin menggunakan senjata itu, maka cegahlah dia, jika ia melawan maka perangilah dia. Perlu diingat untuk menentang atau berperang dengan pihak yang salah itu, pihak pendamai perlulah mempunyai pra-sarana yang sempurna.

Paksalah dia sehingga dia berserah diri kepada perintah Allah dan berhenti melakukan kezaliman dan kebohongan.


Jika mereka insaf, kembali bertaubat dan berhenti membuat kebohongan, maka mesti mengeluarkan arahan kepada kedua yang bertelagah dengan penuh keadilan dan kejujuran. Kerana Allah mencintai orang-orang yang adil.

Setelah itu, kedua-dua mukmin yang bertelagah itu wajib membaiki diri, menghentikan percakapan yang hina menghina, jika ada kerugian yang perlu diganti maka gantikanlah kerugian itu kepada pihak yang dirugikan, orang yang ditawan mesti di bebaskan dan keadilan ditegakkan secara nyata dan tiada pilih kasih.

Demikianlah, Allah Yang Maha Kuasa memerintahkan dalam bentuk umum agar pendamai (biasa kepimpinan jamaah/ organisasi/ negara) mengetahui batas hak-hak sesama mukmin, bagaimana menyelesaikan persengketaan demi kesempurnaan akhlak setiap individu mukmin.

Bahkan ia boleh digunakan untuk mendamaikan persengketaan di peringkat antarabangsa seperti peperangan saudara dalam sesebuah negara umat Islam, yang wajib di ketahui oleh negara pendamai akar permasalahan persengketaan tersebut dan diselesaikan dengan penuh keadilan.

Lebih-lebih lagi sebagai panduan menyelesaikan masalah dalaman organisasi kita (PAS) yang sudah tentu tidak akan lekang dengan masalah selagi jamaah ini disertai oleh mereka yang bernama manusia.

Namun, Al-Quran ada jalan penyelesaiannya.

Rujukan: Kitab Bermasyarakat Menurut Al-Quran: Dastghaib Shirazi

Monday, January 30, 2012

Sejarah Keagungan Islam Hanya Penglipur Lara

Putra Jaya, 29 Jan 2070: Sejarah kehebatan Islam mengenai budaya tegur menegur hanya layak ada di dalam lipatan kitab, disyarah di bilik kuliah, sebagai kajian akademik dan penglipurlara sahaja agar sedap telinga mendengar, tidak lebih dari itu ditegaskan oleh Ketua Negara Malaya (KNM), Ashabul Fadilah Triple Tun Double Tan Sri Multi Dato Pujangga Setia Maharaja Maulana Syeikhul Pak Teh Aris Awang, ketika membentang kertas kerja di hadapan himpunan rakyat baru-baru ini.

"Sejarah Islam yang agung dan hebat itu sudah tidak sesuai lagi di amalkan dalam zaman kepesatan sains dan teknologi masakini, kerana setiap pemimpin sudah mempunyai kemampuan keilmuan yang cukup tinggi untuk menilai baik buruk sesuatu tindakan itu samada boleh atau tidak. Tidak ada siapa yang berhak memberi pendapat dan teguran, lebih-lebih lagi pemuda dan pemuda yang baru berumur belasan tahun." demikian tegas KNM dalam ucapannya menjelaskan tindakan suci beliau yang lebih suci dari undang-undang sedia ada, kerana undang-undang sedia ada mencatatkan ada ruang budibicara.

Tindakan beliau, telah tidak menggunakan ruang budibicara itu, kerana ingin lebih suci dan patriotik kepada negara dan memperli hat kebijaksanaan mentadbir, menurut Jabatan Peguam Malaya

Seterusnya Aris menjelaskan, "Kisah Saidina Umar Al-Khatab telah ditegur dengan pedang, bukan lagi boleh dicontohi kerana sekarang bukan zaman pedang, sebaliknya sekarang adalah zaman facebooker dan tweeter, sementara kisah seorang wanita yang membantah mengenai penetapan mahar oleh Saidina Umar juga sudah tidak releven, kerana sekarang bukan zaman dirham tetapi sudah zaman kad kredit"

Penegasan beliau, telah mendapat tepukan yang gemuruh dari seluruh hadirin.

"Seluruh rakyat harus yakin kepada saya, sebagai pemimpin saya sentiasa akan mengasihi rakyat, namun saya ingatkan seluruh rakyat mestilah menuruti kehendak saya dan pandangan saya. Jika tidak saya terpaksa menggunakan polis untuk demi ketenteraman semua rakyat yang saya kasihi, walaupun dalam perkara selunggok atau dua lunggok tanah.... ingat amaran saya ini! wahai rakyat yang di sayangi" laung Aris dengan penuh patriotik.

Hebat!!!... 7 juta rakyat bangun, mengangguk-nganggukkan kepala mereka secara serentak dan berirama menandakan persetujuan yang tidak berbelah bagi kepada pimpinan yang mereka sayangi dan hormati.

"Mereka pejuang hak asasi manusia kononnya, ingin kebebasan bersuara?. Nak kebebasan bersuara apa lagi... cukuplah dengan pandangan dari saya kerana saya amat mahir untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk kepada seluruh rakyat. Seluruh rakyat harus faham bahawa pandangan saya adalah pandangan negara, apabila pandangan negara maka ia wajib ditaati oleh rakyat yang disayangi" Lanjut Aris.

Sekali lagi rakyat bangun dan bertempik sekuat hati,

"Hidup Ashabul Fadilah Triple Tun Double Tan Sri Multi Dato Pujangga Setia Maharaja Maulana Syeikhul Pak Teh Aris Awang!

Hidup Ashabul Fadilah Triple Tun Double Tan Sri Multi Dato Pujangga Setia Maharaja Maulana Syeikhul Pak Teh Aris Awang!

Hidup Ashabul Fadilah Triple Tun Double Tan Sri Multi Dato Pujangga Setia Maharaja Maulana Syeikhul Pak Teh Aris Awang!


Tiba-tiba seorang seorang anak kecil yang akhirnya dikenali sebagai Idrus Alor Nan bangun membantah dengan melaung, "Hoi, Areh anak Tok Awang! hang merapu apa!!!!"

Badan anak kecil tersebut telah dikeronyok oleh orang ramai sehingga hancur... kerana cuba membantah pandangan pemimpin mereka yang dikasihi.

Setelah itu, papan kenyataan telah dikeluarkan diberbagai tempat oleh Kementerian Keselamatan Negara berbunyi. "WAJIB TAAT - JIKA TIDAK! MATI KERONYOK"

Sebagai halua telinga dan bahan renungan elok mendengar pandangan merapu Dr. Aziz Bari, yang perlu belajar lagi undang-undang daripada Ashabul Fadilah Triple Tun Double Tan Sri Multi Dato Pujangga Setia Maharaja Maulana Syeikhul Pak Teh Aris Awang.

Selamat menonton


Saturday, January 28, 2012

Apakah aku berjaya berlepas diri ketika di hadapan Mu Ya Allah???

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang berlaku zalim maka (kalau kamu berlaku demikian), api neraka akan membakar kamu, sedang kamu tidak ada sebarang penolong pun yang lain dari Allah. Kemudian (dengan sebab kecenderungan kamu itu) kamu tidak akan mendapat pertolongan. (Surah Hud: 113)

Kezaliman adalah satu kemungkaran.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu, dia berkata : Aku mendengar Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya), jika dia tak mampu, maka dengan lidahnya (menasihatinya), dan jika tak mampu juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”. (Muttafaqun Alaih)

Oleh itu kepada yang tidak daya upaya, walaupun dengan hati untuk tidak senang dengan kezaliman - jangan mengeluarkan hujah yang meloyakan untuk mempertahankan kezaliman.

Tidak takutkah kita dengan amaran Allah, atas alasan kerana lebih takut kepada manusia atau apa-apa kononnya maslahah dunia!

Monday, January 2, 2012

Menghidupkan Spiritualiti Dalam Dunia Politik

Oleh: Ahmad Arif
Mantan Pengurus Pusat Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh, Jakarta


Kehidupan politik di negeri ini sungguh kental dengan nuansa keglamoran dan sikap hedonisme. Para politikus pun tidak sungkan-sungkan untuk tampil parlente dan serba "wah" laiknya kaum selebritas. Mobil-mobil mewah tampaknya sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka. Inilah yang dikritik secara pedas oleh Busyro Muqadas, di penghujung masa jabatannya sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu.

Iding R Hasan, (Republika, 29/11/2011), Dosen Ilmu Politik Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta menegaskan, salah satu faktor kentalnya aroma ekonomi pada kehidupan politik di negeri ini adalah masuknya kalangan pengusaha ke dalam panggung politik. Inilah yang disebut dengan fenomena politik pengusaha.

Artinya, terdapat perkawinan kepentingan antara penguasa dan pengusaha. Partai-partai politik sebagai pemasok terbesar politikus umumnya sangat bergantung pada pengusaha bahkan sebagian besar kini berhasil dipimpin oleh pengusaha.
Maka, tidaklah mengherankan kalau pengusaha-pengusaha yang sudah terbiasa hidup dengan kemewahan membawa kebiasaannya tersebut ke dalam kehidupan berpolitik. Celakanya adalah para politikus yang tidak berlatar belakang pengusaha pun, perlahan tapi pasti, mulai terjangkiti kebiasaan hidup mewah tersebut. Bahkan terkadang lebih liar, binal, ba'al dan bebal serta berdasa muka.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika mereka melakukan berbagai cara ilegal, seperti KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) dan atau NKK (Nolongin Kawan-Kawan), demi memenuhi keinginan hidup bermewah tersebut.


Wara' dan Zuhud

Sebagai makhluk sosial manusia tidak pernah lepas dari perselisihan dan perdebatan. Penyebabnya bisa bermacam-macam, demikian juga dengan ujung perselisihan tersebut, ada yang berdamai, ada pula yang terus saling memusuhi. Jika mereka orang yang berakhlak mulia maka akhir permasalahan adalah kedamaian dan hikmah yang luar biasa, namun jika mereka orang-orang yang serakah dan sombong maka permasalahan yang sepele bisa berujung ke pertumpahan darah.


Menjaga diri dari keharaman (
wara' atau iffah) adalah hal yag sangat mulia. Oleh karena itu, sepatutnya sifat wara' menjadi perhiasan setiap muslim. Dengan memiliki sifat tersebut, hilanglah sifat serakah dan tama' terhadap urusan dunia. Pemilik sifat ini akan mendahulukan hak orang lain dari pada haknya sendiri, sehingga permusuhan, pertikaian dan saling membelakangi dapat dihindari dan akhirnya hati pun penuh dengan kedamaian.

Secara etimologi al-wara' menurut bahasa jika dikatakan, "wara'a yara'u war'an wa wara'an wa wari'atan." artinya menjaga dan menghindari dari hal-hal yang diharamkan kemudian digunakan juga untuk perbuatan menahan diri dari hal halal yang mubah. Pelakunya disebut wari'un atau mutawarri'un. Sedangkan secara terminologis, al-wara' artinya menahan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan mudharat lalu menyeretnya kepada hal-hal yang haram dan syubhat.


Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada yang syubhat, manusia tidak banyak mengetahui. Siapa yangg menjaga dari syubhat, maka selamatlah agama dan kehormatannya. Dan siapa yang jatuh pada syubhat, maka jatuh pada yang haram." (HR Bukhari & Muslim).


Sikap wara' membuahkan zuhud. Zuhud berasal dari terminologi ilmu tasawuf yang berarti tidak tertarik terhadap sesuatu atau meninggalkannya. Dalam hal ini, meninggalkan kehidupan duniawi demi mengejar kehidupan ukhrawi. Sebagian sufi ada yang ekstrem memaknai zuhud dengan sama sekali meninggalkan dunia, bahkan sebagian dari mereka menyebutkan bahwa "dunia merupakan penjara bagi orang-orang beriman." Dengan demikian, kalau orang masih terikat kehidupan duniawi, sulit baginya untuk mencapai kehidupan ukhrawi yang lebih baik.


Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), dalam karyanya Tasawuf Modern Perkembangan dan Pemurniannya (1939), menjelaskan bahwa zuhud adalah tidak ingin atau tidak demam terhadap dunia, kemegahan, harta benda, dan pangkat. Artinya, seorang pelaku zuhud tidak berarti meninggalkan sama sekali dunia, namun hatinya tidak demam atau tidak terikat pada dunia.


Hamka menegaskan bahwa pelaku zuhud menerima kemiskinan sebagaimana halnya ia menerima kekayaan. Saat ia mendapatkan kekayaan yang berlimpah ruah, ia tetap ingat akan kehidupan ukhrawi, sama seperti ia berada di dalam kemiskinan. Dengan kata lain, ia tidak sampai dikuasai atau diperbudak oleh hartanya, tetapi justru dialah yang menguasai hartanya tersebut untuk dimanfaatkan dalam kebaikan dan sesuai dengan proporsinya.


Urgensi Wara' dan Zuhud Politik


Di tengah gaya hidup hedonis-kapitalistis yang tengah menjangkiti kehidupan para politisi dan pejabat di negeri ini, gaya hidup wara' dan zuhud tampaknya memberikan tawaran yang mencerahkan. Tentu saja ada banyak manfaat atau hikmah yang dapat mereka peroleh jika, setidaknya, semangat wara' mampu diejawantahkan dalam kehidupan politik mereka.

Paling tidak ada tiga hal yang menjadikan urgen bersikap wara' dan zuhud dalam berpolitik.

Pertama, kalau para wakil rakyat dan pejabat publik mampu menerapkan wara' dan zuhud dalam kehidupannya, tentu ini akan menjadi teladan yang baik bagi rakyat. Salah satu problem akut bangsa ini adalah krisis keteladanan dari para pemimpin. Rakyat seakan sulit sekali menemukan sesuatu yang dapat mereka teladani dari para elite politik dan pemimpin negeri.


Argumen salah seorang anggota dewan yang mengatakan, "Apa salah saya memiliki mobil mewah? Toh saya membelinya dengan uang sendiri, bukan korupsi," agaknya memperlihatkan krisis keteladanan tersebut. Dia barangkali atau pura-pura tidak menyadari bahwa sebagai seorang elite, terlebih sebagai yang mewakili rakyat, perilakunya tersebut dapat memberikan pengaruh pada mereka. Kalau mereka hidup bermewah-mewah sebenarnya mereka sedang memberikan contoh gaya hidup seperti itu kepada rakyat.


Kedua, orang yang mampu menerapkan wara' dan zuhud di dalam kehidupannya akan mampu membangun empati sosial terhadap orang-orang yang menderita. Gaya hidup wara' dan zuhud sangatlah mendukung pekerjaan para wakil rakyat dan pejabat publik. Sejatinya, mereka bekerja semata-mata untuk memperjuangkan nasib dan aspirasi rakyat. Maka, jika mereka hidup bermewah-mewah tentu tidak akan merasa nyaman ketika berhadapan dengan rakyat yang sedang mereka perjuangkan karena terdapat kesenjangan yang demikian menganga.


Ketiga, pelaku wara' dan zuhud tidak menemukan kenikmatan hidup pada perolehan materi yang berlimpah, tetapi pada bagaimana ia berbagi kepada orang lain dengan hartanya tersebut. Ia mampu mengendalikan hartanya, tidak sebaliknya, harta yang mengendalikannya. Baginya, hidup dengan mencukupi semua kebutuhannya sudah dianggap baik, sekalipun tidak semua keinginannya terpenuhi.
Para politikus yang memiliki semangat wara' dan zuhud di dalam jiwanya tentu tidak akan mengukur keberhasilannya dengan kepuasan materi yang di dapatnya selama menjabat. Tetapi, bagaimana ia mampu menjalankan amanahnya tersebut dengan baik dan mendapatkan harta sesuai dengan hak yang semestinya ia peroleh. Dengan demikian, mereka tidak akan menghalalkan segala cara demi memperoleh harta tersebut.

Spiritualitas Dunia Politik


Realitas politik praktis yang berlangsung saat ini, jauh dari kehidupan spiritual. Politik sampai saat ini masih lebih dominan dimaknai ala Harold Lasswell; siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana. Dengan kata lain, ujung dari gerak politik adalah bagaimana memperoleh dan mempertahankan kekuasaan.


Sekarang ini jarang orang berbicara tentang politik sebagai pengalokasian nilai-nilai (allocation of the values) atau seperti yang ditekankan ilmuwan politik klasik semacam Plato mengenai kebaikan bersama. Politik dalam maknanya seperti ini justru bisa menekankan masalah komitmen bersama untuk mendistribusikan nilai-nilai keadilan, kebaikan, dan sebagainya.


Dalam konteks inilah, politik sesungguhnya bisa menampilkan aspek spiritualitasnya sehingga tidak terasa kering. Wara' dan zuhud sebagai salah satu konsep yang berasal dari khazanah tasawuf bisa menjadi salah satu pembangkit spiritualitas politik tersebut.


sumber

Friday, December 23, 2011

Sajak anak Dr. Yusof Qaradhawi 2004

Saya Tiada Apa-Apa... untuk Hilang



Saya telah tiada apa-apa di sini ... untuk merasa kehilangan ...
di tanah air sendiri, tulang telah hancur berkecai ...
Penguasa hidup mewah dikelilingi oleh penjilat
sombong takbur ...
Dan orang-orang yang hidup kelaparan di tanah perkuburan ...
seolah-olah kebuluran telah biasa ...
nasib mereka telah ditetapkan oleh Allah ...
seolah-olah kelaparan untuk mereka selama-lamanya ...
sebagai satu syarat untuk menerima keampunan ...

***
Saya tiada
punya apa-apa jua untuk menggigil ketakutan ... untuk merasa kehilangan ...
di tanah air yang telah dilingkungi pagar ...
Kami, kumpulan itu, telah melarikan diri dari singa dalam seluruh kehidupan kami!
Fakta-fakta yang merosakkan telah beku di dalam fikiran saya ...
Maruah diri saya?
Roti telah direbut dari tangan saya ...
Kesihatan saya ...?
Telah dibazirkan melalui kesengsaraan ...
Dan keagungan penguasa dalam kemewahan ...
Tongkat penguasa telah dihiasi dengan seribu berlian ...

Saya telah tiada apa-apa di dalam almari saya ... untuk merasa kehilangan ...
Bakat saya?
Telah dikuasai oleh pengaruh televisyen ...
Belia ... Separuh daripada kekuatan mereka adalah biasa ...
Dan separuh lagi ... dadah ...
Dan kemanusiaan saya ...
Telah diinjak oleh kenderaan berantai Sultan ...
Meraikan kekalahannya ...
Beliau telah memberitahu mereka kemenangan atas kekalahan ...
Dan jika saya mengucapkan satu ayat, saya akan memberitahu:
"Tidak perlu bersuara dengan suara pembohongan dan mustahil ..."!!

***
Saya telah tiada apa-apa di dalam perpustakaan saya ... untuk merasa kehilangan
Semua yang saya telah kumpul ...
telah dibakar di dalam musim sejuk ...
Apabila ia sukar untuk mencari alat pembakar ...
Dan dia yang mencuri kebebasan saya ... dan seketul roti ...
Mahu saya mengucapkan terima kasih kepada beliau ...!!
Saya memberitahu orang-orang bersenjata yang bodoh:
Maafkan saya ...
Beritahu Sultan
rahsia kebodohannya ...
Jika dia hendak merungut, menangislah kepada bulan ...
Sejak undi palsu yang membawanya ke istana ...
Beritahu kebodohan
Sultan secara terbuka ...
Tentu saya akan ditahan - walaupun tindakan itu sehina lubang dubur ...!!

***
Saya tiada
punya apa-apa yang bernilai, untuk merasa kehilangan ...
Dalam tanah air yang telah dirampas kebahagiaan saya ...
Telah membuat anak-anak muda dipaksa menelan kurikulum yang dibangunkan dalam kemunduran ...
Mempunyai sejarah yang diputarbelit ...
Dan masa depan yang ia janjikan ...
telah menjadi sebagai pembunuhan beramai-ramai ...
Ia telah membenarkan pelacuran menyapu
Tiap-tiap rumah dan masjid ...
berikutan rancangan yang dianjurkan ...
Dan saya masih menentang kezaliman ...
Dengan pena bulu ayam ... dan bekas dakwat ... !!!!!

Kaherah
23 Ogos 2004
04:00

sumber: web Abd Rahman Yusof Al-Qaradhawi, klik disini untuk sajak original


Monday, December 5, 2011

SEMOGA 10 MUHARAM 1433 MEMBERI ERTI SEBENAR PERJUANGAN

Pemuda dan pemudiku...

Dalam Shahih Tirmidzi 2/240, hadis ke 3769:

Usamah bin Zaid berkata: Pada suatu malam aku datang kepada Nabi saw karena suatu keperluan, lalu beliau keluar rumah dan menyelimuti sesuatu, aku tidak tahu apa itu. Setelah aku selesai keperluanku, aku bertanya: Apa yang engkau selimuti? Kemudian membukanya: Ternyata beliau menggendong Hasan dan Husein. Lalu beliau bersabda: “Kedua anak ini adalah puteraku dan putera dari puteriku. Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya, maka jadikan aku mencintai keduanya dan mencintai keduanya.”

Oleh itu janganlah merasa takut untuk mengkaji sejarah pembunuhan cucu Rasulullah saw, Husain bin Ali Karamallah wajhah oleh tentera Yazid bin Muawiyah hanya kerana takut akan dikaitkan dengan syiah dan paling bimbang akhirnya dituduh sesat, apabila sesat masuk neraka. Maka, trajedi pembunuhan Hussein cucu Rasulullah tertinggal dalam lipatan sejarah, tiada siapa lagi cuba mengkaji secara terperinci, dibahas dan dicerna sebagai pedoman dalam meneruskan perjuangan mengikut garis lurus yang ditunjuk oleh beliau.

Tiada lagi pernah terasa dari dalaman diri untuk menziarahi pusara Hussein
Cucu Rasulullah saw, sedangkan pusara Al-Marhum Ustaz Fadzil serta Asyahid Ustaz Ibrahim Mahmud seolah-olah menjadi kemestian kepada pejuang PAS dan tokoh gerakan Islam dari luar Kedah dan Malaysia menziarahinya bila berkunjung ke Kedah.

Mencintai Hussein dan mengkaji perjalanan sejarahnya bukanlah hak eksklusif sesiapa, ia adalah hak seluruh umat Islam yang inginkan kebenaran yang mendambakan sepenuh ketundukan kepada Allah Azzawajalla dalam menegak yang ma'aruf dan mencegah munkar.

Kajilah mengapa mengapa begitu kejam dan dahsyatnya anak Fatimah binti Muhammad Rasulullah saw serta keluarganya ini dibunuh dan dihina di Padang Karbala, Iraq hanya setelah beberapa puluh tahun kewafatan datuknya yang juga Nabi dan Rasul terakhir kita. Sudah tentu ada banyak pedoman dan pengajaran yang boleh kita dapati dari sejarah tersebut, pemuda dan pemudi ku...

Bagi ku, perjuangan Hussein r.a. adalah lambang penentangan kepada mereka yang bertopengkan Islam, tetapi sebenarnya jahat kepada Islam, manusia dan Tuhannya sendiri!!! Dan mereka ini ada disetiap zaman.

Dalam shahih Ibnu Majah, tentang Al-Hasan dan Al-Husein:

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

من أحبّ الحسن والحسين فقد أحبني ومن أبغضهما فقد أبغضني

“Barangsiapa yang mencintai Al-Hasan dan Al-Husein ia telah mencintaiku, dan barangsiapa yang membenci mereka ia telah membenciku.”

Sekurang-kurangnya hayatilah video-video di bawah ini...




Dalam Mustadrak Al-Hakim, jilid 3 halaman 166:

Salman berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

الحسن والحسين إبناي من أحبهما أحبني ومن أحبني أحبه الله ومن أحبه الله أدخله الله الجنّة ، ومن أبغضهما أبغضني ومن أبغضني أبغضه الله ومن أبغضه الله أدخله النار. قال : هذا حديث صحيح على شرط الشيخين

“Al-Hasan dan Al-Husein puteraku, barangsiapa yang mencintai mereka ia mencintaiku, barangsiapa yang mencintaiku ia dicintai oleh Allah, dan barangsiapa yang dicintai oleh Allah ia akan masuk surga. Barangsiapa yang membenci mereka ia membenciku, barangsiapa yang membenciku ia dibenci oleh Allah, dan barangsiapa yang dibenci oleh ia akan masuk neraka.” Al-Hakim berkata: Hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim.




Dalam Ad-Durrul Mantsur tentang tafsir surat At-Taghabun: 15, As-Suyuthi berkata:

Yazid bin Abi Ziyad berkata: Pada suatu hari Nabi saw keluar dari rumah Aisyah r.ha. lalu beliau melalui di dekat rumah Fatimah (as), kemudian beliau mendengar tangisan Al-Husein. Maka beliau bersabda: “Tahukan kamu sesungguhnya tangisan Al-Husein menyakitkan aku?”



Dalam Mustadrak Al-Hakim 4: 397, kitab ta’bir mimpi:

Ibnu Abbas berkata: Aku bermimpi Rasulullah saw sebagaimana orang mimpi di siang hari, beliau memegang botol yang berisi darah. Kemudian aku bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Nabi Allah, apa maksud dalam mimpiku ini? Rasulullah saw menjawab: “Ini adalah darah Al-Husein dan sahabat-sahabatnya, sejak hari ini hendaknya kamu menghitungnya.” Ibnu Abbas berkata: Kemudian aku menghitung hari itu, maka sebelum satu hari mereka dapatkan Al-Husein terbunuh.
Al-Hakim mengatakan: hadis ini shahih menurut persyaratan Muslim.


Hadis-hadis tersebut di atas dan yang semakna juga terdapat dalam:

1. Kanzul ummal, jilid 6 halaman 220, hadis ke 34255.
2. Khashaish An-Nasa’i, halaman 36.
3. Shahih Tirmidzi, jilid 2 halaman 307, hadis ke 3782.
4. Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 2 halaman 288, hadis ke 7816; jilid 5 halaman 369, hadis 22623.
5. Tarikh Baghdad, Al-Khathib Al-Baghdadi, jilid 1 halaman 141.
6. Kunuz Al-Haqaiq, halaman 134, hadis ke 7098.
7. Musnad Abu Dawud Ath-Thayalisi, jilid 10 halaman 332, hadis ke 2546. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah.
8. Majmaj Az-Zawaid, jilid 9 halaman 180. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah.
9. Sunan Al-Baihaqi, jilid 2 halaman 263, hadis ke 3423.
10. Hilyatul Awliya’ Abu Na’im, jilid 8 halaman 305, hadis ke 432.
11. Al-Ishabah, Ibnu Hajar, jilid 2 halaman 12, hadis ke 1719.
12. Tarikh Al-Kabir, jilid 4 halaman 202, hadis ke 1383.
13. Majmaj Az-Zawaid, jilid 9 halaman 181.
14. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3 halaman 166, kitab ma’rifah Shahabah, manaqib Al-Hasan wa Al-Husayn.
15. Majma’ Az-Zawaid, jilid 9 halaman 201.
16. Dzakhair Al-Uqba, halaman 143.
17. Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1 halaman 242, hadis ke 2166.
18. Tarikh Baghdad, jilid 1 halaman 142.
19. Usdul Ghabah, Ibnu Atsir, jilid 2 halaman 22, hadis ke 1173.
20. Al-Isti’ab, Ibnu Abd Al-Birr, jilid 1 halaman 144.
21. Al-Ishabah, Ibnu Hajar, jilid 2 halaman 17, hadis ke 1724.
22. Majmaj Az-Zawaid, jilid 9 halaman 195, bab manaqib Al-Husein bin Ali ra.


Rujukan Hadis dari Ustaz Syamsuri Rifai dan Video dari Ibu Ifadah