Monday, December 20, 2010

Tabung PRK DUN Tenang, Johor

PAS akan bertanding di DUN Tenang.

Sumbangan anda berupa tenaga, masa dan harta benda diperlukan untuk menggerakan jentera pilihanraya DUN Tenang.

Sumbangan boleh di mulakan dengan masukkan wang ke Akaun:
Perhubungan PAS Negeri Johor:

BIMB 01032010007572.

PASTIKAN KITA SEMUA BERUSAHA AGAR ALLAH MENUKAR PENDIRIAN PENGUNDI BN DAHULUNYA (2008)KEPADA MENGUNDI PARTI ISLAM SEMALAYSIA (PAS)
SEKARANG INI (2011).

TERIMA KASIH.

Sunday, December 19, 2010

Aku Terima Email Dari Ustaz Ridzuan... Aku Siar.

Kalaupun Hikmah, Mahathir Bukan Orangnya

1. “Hikmah adalah barang keciciran orang Islam, di mana saja kamu bertemu dengannya, maka kamu berhak keatas”, demikianlah lebih kurang mafhum sabdaan baginda Rasul SAW yang membicarakan tentang hikmah, dan atas asas memahami hadith tersebutlah yang menyebabkan para pendahulu kita di kalangan para Khulafa telah mengambil pelbagai hikmah dalam segala jurusannya untuk kebaikan ummat ini, sistem pos, hiraki ketenteraan, sistem penyampaian maklumat dan segala macam lagi telah dicedok dari tamaddun lain dan setelah itu dimurnikan dengan “iman”. Gabungan antara “hikmah” yang diambil dari pelbagai tamaddun dimurnikan dengan “iman” yang tidak mungkin dapat dicapai oleh “orang lain” selain dari para mukminin.

2. Namun, sejarah tidak pernah mengajar kepada kita bahawa “hikmah” itu telah di”cedok” terus bersama pelopornya, apatah lagi kalaulah “pelopor”nya itu adalah orang yang amat sinis pandangannya terhadap “keabsahan” Islam dalam pelbagai jalur kehidupan. Pimpinan Islam mengambil “Hikmah” sistem pos dari “Parsi”, namun mereka tidak me”nobat”kan pimpinan “Parsi” sebagai “Penaung Tetap” sistem yang baru ini.

3. Dalam konteks perkembangan ekonomi Islam di Malaysia, Dr Mahathir mungkin lah boleh dianggap sebagai “pelopor” yang mengambil kesempatan atas “arus” permintaan ummat untuk “beriman” kepada sistem ekonomi Islam. Namun, beliau bukanlah “tokoh hebat ekonomi Islam”, mungkin hatta istilah-istilah ekonomi Islam pun belum beliau hadami sedalam mungkin. Kita boleh akui kehebatan manusia yang bernama Matahir, tetapi kita kena “faham”, manusia inilah yang telah menconteng pelbagai arang ke muka ummat ini sepanjang sejarah 22 tahun beliau berada di puncak kuasa. Beliau lah yang mencetuskan perasaan “was-was” terhadap sistem Islam. Meletakkan beliau sebagai Penaung Tetap LIFE dan penganugerahan tokoh kepada beliau “seoalah-olah” merendahkan martabat “tokoh yang sebenarnya tokoh”.

Kalaupun hikmah, Mahathir bukanlah orangnya.

RIDZWAN BIN ABU BAKAR

Thailand, 1.39 pm 16 .12.2010 / 10 Muharram 1432 H

Friday, December 17, 2010

Kalau Sampai Macam Ni Pun Tak Apa.... Aku Tak Tahulah...

Aku sudah tidak tahu lagi apa yang hendak dikata.

Aku teringatkan Saidina Hassan dan Saidina Hussein cucu Rasulullah saw.

Hancur luluh hatiku pengiktirafan diberi sehingga tahap itu!

As-Syahid Ustaz Ibrahim Mahmud pernah berkata: "Dari pada hidup bercerminkan bangkai, lebih baik mati bergalangkan tanah."

Ustaz Fadzil pernah berkata: "Biar Mahathir lihat sendiri kerosakan yang telah pernah dia lakukan".

Mengapa tidak Tuan Guru Nik Abd Aziz Nik Mat yang sudah melancarkan penggunaan Dinar dan Dirham, ketika BN melancarkan Dengki dan Dendam.

Janganlah kita kelirukan keadaan yang memang sudah keliru, melalui Institusi yang kita telah diberi Allah kekuasaan ke atasnya.

Aku mohon keampunan dan petunjuk untuk terus di landasan Sira thol mustaqim kepadamu Ya Allah.

Friday, November 19, 2010

Kalah Di Galas, Banjir Di Kuala Kedah dan Kematian Kawan Baik....

Kalah di Galas, Banjir di Kuala Kedah (Anak Bukit dan Kubang Rotan) dan kematian kawan baik (Lee Hock Seng) .......... berlaku dalam masa yang hampir serentak.

Mungkin aku banyak dosa kepada Mu ya Tuhan ku.

Ya Allah ampunilah dosa ku...


Tuesday, November 16, 2010

IBADAH HAJI KUNCI KESATUAN UMMAH

Pesan Tertulis Pemimpin Besar Revolusi Islam untuk Jamaah Haji Dzulhijjah 1431 H Cetak

 سم الله الرحمن الرحیم

و الحمد لله رب العالمین و صلی الله علی سیدنا محمد المصطفی و آله الطیبین و صحبه المنتجبین

Di musim haji, Ka'bah sebagai kunci persatuan dan kemuliaan serta lambang tauhid dan spiritual, menjamu kalbu-kalbu perindu dan pendamba yang datang dari berbagai penjuru dunia memenuhi panggilan Tuhan yang Maha Agung sambil mengumandangkan gema talbiyah saat menuju tanah kelahiran Islam. Saat ini, umat Islam dapat menyaksikan keluasan dan keberagaman diri serta iman mendalam yang menguasai hati para pengikut agama yang lurus ini dari sebuah perkumpulan para utusan mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia, di sana. Dengan menyaksikan gambaran tersebut dalam bentuk yang terkompres padat, umat Islam dapat mengenal dengan baik kekayaan agung yang tak tertandingi ini.

Pengenalan kembali ini membantu kaum muslimin untuk menyadari kedudukan mereka yang sesungguhnya di dunia hari ini dan esok, dan membantu untuk bergerak ke arah sana.

Luasnya gelombang kebangkitan Islam di dunia hari ini adalah hakikat yang meniupkan kabar gembira akan hari esok yang baik bagi umat Islam. Sejak tiga dekade silam, geliat kebangkitan yang agung ini telah terlihat dengan kemenangan revolusi Islam dan pembentukan pemerintahan Repulik Islam. Sejak saat itu, umat Islam terus bergerak maju, menerjang setiap rintangan yang menghadang dan menaklukkan barak demi barak.

Kian pelik dan sistematisnya modus permusuhan kubu arogansi dan upayanya dalam melawan Islam dengan dana raksasa, adalah bukti lain dari kemajuan yang dicapai ini. Propaganda musuh dalam skala luas untuk menebar Islamophobia, tindakan mereka yang tergesa-gesa untuk menciptakan perselisihan antara kelompok-kelompok Islam dan menyulut sentimen madzhab, upaya mereka dalam mengobarkan permusuhan antara Syiah dan Sunni, langkah mereka dalam menebar perseteruan antara negara-negara Islam serta usaha memperuncing perselisihan yang ada dan mengubahnya menjadi permusuhan dan konflik yang tak berkesudahan, pengerahan badan-badan intelijen dan spionase untuk menyuntikkan kebobrokan dan amoralitas di tengah kaum muda, semua itu menunjukkan reaksi kepanikan mereka menghadapi gerakan yang mantap dan langkah umat Islam yang kokoh menuju ke arah kesadaran, kemuliaan dan kebebasan.

Berbeda dengan kondisi tiga puluh tahun yang lalu, hari ini Rezim Zionis Israel bukan lagi momok digdaya yang tak terkalahkan. Lain dengan kondisi dua dasawarsa yang lalu, saat ini Amerika dan Barat bukan lagi pembuat keputusan mutlak di Timur Tengah. Tak seperti kondisi sepuluh tahun yang lalu, saat ini teknologi nuklir dan teknologi-teknologi canggih lainnya bukan lagi impian kosong yang mustahil dicapai oleh bangsa-bangsa Muslim di kawasan. Hari ini bangsa Palestina muncul sebagai pahlawan perjuangan moqawamah. Bangsa Lebanon berhasil memenangi perang 33 hari dan seorang diri berhasil melumpuhkan kedigdayaan Rezim Zionis yang ternyata keropos. Dan kini, bangsa Iran tampil sebagai pemegang panji dan yang terdepan dalam gerakan menuju puncak.

Amerika yang arogan dan pengklaim diri sebagai komandan tempur di kawasan Islam serta pendukung utama Rezim Zionis Israel, hari ini sedang terjebak dalam lumpur air yang dibuatnya sendiri di Afghanistan. Di Irak, dengan segala kejahatan yang dilakukannya terhadap rakyat negara itu, Amerika semakin terkucilkan. Di Pakistan, negeri yang sedang tertimpa musibah, Amerika semakin dibenci. Front anti Islam yang sejak dua abad lalu secara zalim menjajah bangsa-bangsa dan negeri-negeri Muslim serta menjarah kekayaannya, hari ini tengah menyaksikan pudarnya pengaruh dan munculnya perlawanan gigih bangsa-bangsa Muslim terhadapnya. Di lain pihak, gerakan kebangkitan Islam kian solid dan mengakar dan semakin meningkat.

Transformasi yang menghidupkan optimisme dan mengandung kabar gembira ini sudah seharusnya membawa kita, sebagai umat Islam, untuk semakin mantap dan optimis memandang masa depan dan di sisi lain menjaga kearifan dengan bekal ibrah dan pelajaran yang ada. Tak syak, teguran umum ini membebankan kepada para ulama, pemimpin politik, kaum cendekia dan kalangan muda tanggung jawab yang lebih besar dibanding lapisan masyarakat yang lain serta menuntut mereka untuk berjuang dan melangkah di barisan terdepan.

Dalam sebuah ungkapan yang ekspresif dan hidup, al-Qur'an al-Karim menyatakan;

کنتم خیر امّة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف و تنهون عن المنکر و تؤمنون بالله

"Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan di kalangan manusia (agar) kalian menyeru kepada yang ma'ruf (kebaikan) dan mencegah yang munkar (kejahatan) serta beriman kepada Allah." (Q.S. Aal Imran: 110)

Dengan penghormatan, ayat ini menyebut umat Islam sebagai umat yang diciptakan untuk kemanusiaan. Tujuan dari terciptanya umat ini adalah untuk menyelamatkan manusia dan mendatangkan kebaikan baginya.

Umat ini memikul tugas yang besar yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah keburukan serta beriman secara mendalam kepada Allah. Tak ada kebaikan yang lebih tinggi dari kebaikan menyelamatkan bangsa-bangsa dari cengkeraman tangan adidaya yang arogan. Dan, tak ada kemunkaran yang lebih buruk dari kebergantungan dan pengabdian kepada kaum arogan. Hari ini, membantu bangsa Palestina dan warga Gaza yang terisolasi, bersimpati dengan rakyat Afghanistan, Pakistan, Irak dan Kashmir, gigih melawan agresi Amerika dan Rezim Zionis Israel, menjaga persatuan umat Islam, memerangi tangan-tangan kotor dan lidah-lidah bayaran yang berusaha merusak persatuan ini, memperluas lingkup kesadaran, komitmen dan rasa tanggung jawab di tengah generasi muda Muslim di seluruh negeri Islam adalah kewajiban berat yang dipikul oleh kelompok elit umat ini.

Fenomena haji telah menunjukkan kepada kita sebuah kesempatan yang mendukung untuk pelaksanaan kewajiban itu sekaligus menyeru kita untuk melipatgandakan pekerjaan dan kegigihan.

Wassalamu'alaikum wa rahmatullah
Sayyid Ali Husaini Khamenei
1 Dzul Hijjah 1431 Hijriyah
17 Aban 1389 HS/ 8 November 2010 M

Monday, November 1, 2010

SELAMAT MENGERJAKAN IBADAH HAJI

Dialog ini terjadi antara cicit Rasulullah saw, Ali Zainal Abidin (ra) dengan Asy-Syibli. Asy-Syibli adalah seorang ulama sufi besar dan terkenal hingga sekarang, khususnya di kalangan para sufi. Cicit Rasulullah saw, Ali Zainal Abidin (sa) adalah putera Hussein cucu Rasulullah saw. Dialog ini di terjemahkan dari kitab Al-Mustadrak.

Berikut ini dialognya:

Saat pulang ke Madinah selesai menunaikan ibadah haji, Asy-Syibli datang kepada gurunya Ali Zainal Abidin (ra) untuk menyampaikan pengalamannya selama menunaikan ibadah haji. Dalam pertemuan itu terjadilah dialog antara seorang guru dengan muridnya.

Ali Zainal Abidin (ra): Wahai Syibli, Anda sudah menunaikan ibadah haji?
Asy-Syibli: Ya, sudah yabna Rasulillah (wahai putra Rasulillah)

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah Anda sudah berhenti miqat, kemudian menanggalkan semua pakaian terjahit yang dilarang bagi orang yang menunaikan ibadah haji, kemudian Anda mandi sunnah untuk memakai baju ihram?
Asy-Syibli: Ya, semua sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah ketika berhenti di miqat Anda menguatkan niat, dan menanggalkan semua pakaian maksiat kemudian menggantinya dengan pakaian ketaatan?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Pada saat Anda menanggalkan pakaian yang terlarang itu apakah Anda sudah menghilangkan perasaan riya', munafik, dan semua subhat (yang diragukan hukumnya).
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika Anda mandi sunnah dan membersihkan diri sebelum memakai pakaian ihram, apakah Anda juga berniat membersihkan diri dari segala macam noda-noda dosa?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Jika demikian, Anda belum berhenti miqat, belum menanggalkan pakaian yang yang terjahit, dan belum mandi membersihkan diri.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika Anda mandi, berihram dan mengucapkan niat untuk memasuki ibadah haji, apakah Anda sudah menguatkan niat dan tekad hendak membersihkan diri dan mensusikannya dengan pancaran cahaya taubat dengan niat yang tulus karena Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah pada saat memakai baju ihram Anda berniat untuk menjauhkan diri dari segala yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla.
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah ketika berada dalam ibadah haji yang terikat dengan ketentuan-ketentuan haji, Anda telah melepaskan diri dari segala ikatan duniawi dan hanya mengikatkan diri dengan Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Kalau begitu, Anda belum membersihkan diri, belum berihram, dan belum mengikat diri Anda dalam menunaikan ibadah haji.

Ali Zainal Abidin (ra): Bukankah Anda telah memasuki miqat, shalat ihram dua rakaat, kemudian mengucapkan talbiyah?
Asy-Syibli: Ya, semua itu sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika memasuki miqat apakah Anda berniat akan melakukan ziarah untuk mencari ridha Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Pada saat melaksanakan shalat ihram dua rakaat, apakah Anda berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan tekad akan memperbanyak shalat sunnah yang sangat tinggi nilainya?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Jika demikian, Anda belum memasuki miqat, belum mengucapkan talbiyah, dan belum menunaikan shalat ihram dua rakaat.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah Anda telah memasuki Masjidil Haram, memandang Ka'bah dan melakukan shalat disana?
Asy-Syibli: Ya, semua sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (ra): Pada saat memasuki Masjidil Haram, apakah Anda bertekad untuk mengharamkan diri Anda dari mengunjing orang-orang islam?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika sampai di kota Mekkah, apakah Anda menguatkan keyakinan bahwa hanya Allah-lah tujuan hidup?
Asy-Syibli: Tidak

Ali Zainal Abidin (ra): Jika demikian, Anda belum memasuki Masjidil Haram, belum memandang Ka'bah, dan belum melakukan shalat di dekat Ka'bah.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah Anda sudah melakukan thawaf, dan sudah menyentuh sudut-sudut Ka'bah?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukan thawaf.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika thawaf, apakah Anda berniat untuk lari menuju ridha Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Jika demikian, Anda belum melakukan thawaf, dan belum menyentuh sudut-sudut Ka'bah.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah berjabatan tangan dengan hajar Aswad, dan melakukan shalat sunnah di dekat Maqam Ibrahim?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (ra): Mendengar jawaban Asy-Syibli, Ali Zainal Abidin (ra) menangis dan memandangnya seraya berkata:
"Ya sungguh benar, barangsiapa yang berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, ia telah berjabatan tangan dengan Allah. Karena itu, ingatlah baik-baik wahai manusia, janganlah sekali-kali kalian berbuat sesuatu yang menghinakan martabatmu, jangan menjatuhkan kehormatanmu dengan perbuatan durhaka dan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla, jangan melakukan apa saja yang diharamkan oleh Allah swt sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang bergelimang dosa.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika berdiri di Maqam Ibrahim, apakah Anda menguatkan tekad untuk berdiri di jalan kebenaran dan ketaatan kepada Allah swt, dan bertekad untuk meninggalkan semua maksiat?
Asy-Syibli: Tidak, saat itu tekad tersebut belum kusebutkan dalam niatku.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika melakukan shalat dua rakaat di dekat Maqam Ibrahim, apakah Anda berniat untuk mengikuti jejak Nabi Ibrahim (sa), dalam shalat ibadahnya, dan kegigihannya dalam menentang bisikan setan.
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Kalau begitu, Anda belum berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, belum berdiri di Maqam Ibrahim, dan belum melakukan shalat di dekat Maqam Ibrahim.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah Anda sudah memperhatikan sumur air Zamzam dan minum airnya?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika memperhatikan sumur itu, apakah Anda mencurahkan semua perhatian untuk mematuhi semua perintah Allah. Dan apakah saat itu Anda berniat untuk memejamkan mata dari segala kemaksiatan.
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Jika demikian, Anda belum memperhatikan sumur air Zamzam dan belum minum air Zamzam.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah Anda melakukan sa'i antara Shafa dan Marwa?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah saat itu Anda mencurahkan semua harapan untuk memperoleh rahmat Allah, dan bergetar tubuhmu karena takut akan siksaan-Nya?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Kalau begitu, Anda belum melakukan sa'i antara Shafa dan Marwa.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah Anda sudah pergi ke Mina?
Asy-Syibli: Ya, tentu sudah.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah saat itu Anda telah sunggu-sungguh bertekad agar semua manusia aman dari gangguan lidah, hati dan tangan Anda sendiri?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Kalau begitu, Anda belum pergi ke Mina.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah Anda sudah wuquf di padang Arafah? Sudahkah Anda mendaki Jabal Rahmah? Apakah Anda sudah mengunjungi lembah Namirah dan berdoa di di bukit-bukit Shakharat?
Asy-Syibli: Ya, semuanya sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika berada di Padang Arafah, apakah Anda benar-benar menghayati makrifat akan keagungan Allah? Dan apakah Anda menyadari hakekat ilmu yang dapat mengantarkan diri Anda kepada-Nya? Apakah saat itu Anda menyadari dengan sesungguhnya bahwa Allah Maha Mengetahui segala perbuatan, perasaan dan suara nurani?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika mendaki Jabal Rahmah, apakah Anda tulus ikhlas mengharapkan rahmat Allah untuk setiap mukmin, dan mengharapkan bimbingan untuk setiap muslim?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika berada di lembah Namirah apakah Anda punya tekad untuk tidak menyuruh orang lain berbuat baik sebelum terlebih dahulu Anda menyuruh diri Anda berbuat baik? Apakah Anda bertekad tidak melarang orang lain berbuat maksiat sebelum Anda mencegah diri Anda dari perbuatan tersebut?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika Anda berada di bukit-bukit itu, apakah Anda benar-benar menyadari bahwa tempat itu merupakan saksi atas segala kepatuhan kepada Allah swt. Dan Tahukah Anda bahwa bukit-bukit itu bersama para malaikat mencatatnya atas perintah Allah Penguasa tujuh langit dan bumi?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Kalau begitu Anda belum berwuquf di Arafah, belum mendaki Jabal Rahmah, belum mengunjungi lembah Namirah dan belum berdoa di tempat-tempat itu.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda melewati dua bukit Al-Alamain dan menunaikan shalat dua rakaat sebelumnya? Apakah setelah itu Anda melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah, mengambil batu di sana, kemudian berjalan melewati Masy'aril Haram?
Asy-Syibli: Ya, semuanya sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika Anda melakukan shalat dua rakaat, apakah Anda meniatkan shalat itu sebagai shalat Syukur, shalat untuk menyampaikan rasa terima kasih pada malam tanggal 10 Dzulhijjah, dengan harapan agar tersingkir dari semua kesulitan dan mendapat kemudahan?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika melewati dua bukit itu dengan meluruskan pandangan, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, apakah Anda benar-benar bertekad tidak akan berpaling pada agama lain, tetap teguh dalam agama Islam, agama yang hak yang diridhai oleh Allah swt? Benarkah Anda memperkuat tekad untuk tidak bergeser sedikitpun, baik dalam hati, ucapan, gerakan maupun perbuatan?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika berada di Muzdalifah dan mengambil batu di sana, apakah Anda benar-benar bertekad untuk melempar jauh-jauh segala perbuatan maksiat dari diri Anda, dan berniat untuk mengejar ilmu dan amal yang diridhai oleh Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Pada saat Anda melewati Masy'aril Haram, apakah Anda bertekad untuk menjadikan diri Anda sebagai keteladan kesucian agama Islam seperti orang-orang yang bertakwa kepada Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Kalau begitu, Anda belum melewati Al-Alamain, belum melakukan shalat dua rakaat, belum berjalan menuju Muzdalifah, belum mengambil batu di tempat itu, dan belum melewati Masy'aril Haram.

Ali Zainal Abidin (ra): Wahai Syibli, apakah Anda telah sampai di Mina, telah melempar Jumrah, telah mencukur rambut, telah menyembelih binatang kurban, telah menunaikan shalat di masjid Khaif; kemudian kembali ke Mekkah dan melakukan thawaf ifadhah?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (ra): Setelah tiba di Mina, apakah Anda menyadari bahwa Anda telah sampai pada tujuan, dan bahwa Allah telah memenuhi semua hajat Anda?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Pada saat melempar Jumrah, apakah Anda bertekad untuk melempar musuh Anda yang sebenarnya yaitu iblis dan memeranginya dengan cara menyempurnakan ibadah haji yang mulia itu?
Asy-Syibli: Tidak

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika Anda mencukur rambut, apakah Anda bertekad untuk mencukur semua kehinaan diri Anda sehingga diri Anda menjadi suci seperti baru lahir perut ibu Anda?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Ketika melakukan shalat di masjid Khaif, apakah Anda benar-benar bertekad untuk tidak merasa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah swt dan dosa-dosa yang telah Anda lakukan.
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda menyembelih binatang kurban, apakah Anda bertekad untuk memotong belenggu kerakusan diri Anda dan menghayati kehidupan yang suci dari segala noda dan dosa? Dan apakah Anda juga bertekad untuk mengikuti jejak nabi Ibrahim (sa) yang rela melaksanakan perintah Allah sekalipun harus memotong leher puteranya yang dicintai?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda kembali ke Mekkah untuk melakukan thawaf ifadhah, apakah Anda berniat untuk tidak mengharapkan pemberian dari siapapun kecuali dari karunia Allah, tetap patuh kepada-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Jika demikian, Anda belum mencapai Mina, belum melempar Jumrah, belum mencukur rambut, belum menyembelih kurban, belum melaksanakan manasik, belum melaksanakan shalat di masjid Khaif, belum melakukan thawaf ifadhah, dan belum mendekatkan diri kepada Allah swt. Karena itu, kembalilah ke Mekkah, sebab Anda sesungguhnya belum menunaikan ibadah haji.

Mendengar penjelasan Ali Zainal Abidin (sa), Asy-Syibli menangis dan menyesali kekurangannya yang telah dilakukan dalam ibadah haji. Sejak itu ia berusaha keras memperdalam ilmu Islam agar pada tahun berikutnya ia dapat menunaikan ibadah haji secara sempurna.

(Al-Mustadrak 10: 166)
Sumber: Keluarga Bahagia

Sunday, October 31, 2010

PRK GALAS: Mungkin kebetulan sahaja...


Mungkin kebetulan sahaja, bila pergi mengadakan ziarah rumah ke rumah, untuk kempen agar mengundi PAS dalam Pilihanraya Kecil Galas 4 November 2010 nanti. Rombongan kami akan terjumpa dengan penyokong PAS yang menyatakan hasrat untuk menyokong BN samada dalam bentuk lisan atau bahasa badan mereka.

Perkara ini. amat membimbangkan.

Petugas Kedah di tugaskan di dalam Daerah mengundi Sungai Terah yang mempunyai 1,830 orang pengundi Melayu, 62 orang India dan 20 orang Cina. Kampung-kampung yang terlibat ialah Kampung Ann Lin Lee: 30 Melayu, 4 Cina dan 57 India, LKT Sungai Terah: 1,337 Melayu, 2 Cina dan 1 India, Kampung Tiong 302 Melayu, 13 Cina dan 4 India, Batu 2, Kuala Nerus: 87 Melayu, Kolam Emas: 17 Melayu dan 1 Cina, dan yang terakhir Kampung Rahmat: 17 orang Melayu.

Pilihanraya tahun 2008, PAS telah menang di Daerah Mengundi Sungai Terah ini dalam dalam majoriti yang agak besar, oleh itu mempertahankan Daerah Mengundi ini adalah amat penting dalam Pilihanraya Kecil Galas ini untuk memastikan dapat membantu Daerah Mengundi lain yang lemah dan akhirnya mampu memberi kemenangan kepada PAS walaupun dalam jumlah majoriti yang agak merosot bagi DUN Galas pada kali ini.

Asakan yang kuat oleh UMNO dan Barisan Nasional di kubu kuat PAS ini wajib dipertahankan oleh petugas PAS dari Kedah dan Perlis dalam saat yang terakhir ini dan kepada pelancong pilihanraya dari PAS (mereka yang datang untuk memerhati kemeriahan suasana Pilihanraya dan mendengar ceramah) wajib memastikan sekurangnya dapat menziarahi 5 buah keluarga sepanjang berada dalam kawasan pilihanraya sebelum 4 November nanti. Gunakanlah segala keupayaan dan skill tersendiri untuk meraih sokongan mereka kepada PAS.

Paling kurang, beradalah di kedai-kedai kopi, masjid, surau kemudian dekatilah pengundi tempatan dan selepas itu pastikan mereka mengundi PAS dan menolak Barisan Nasional.

Duit? ya! duit adalah senjata terakhir yang akan digunakan oleh BN. Jika kita menggunakan pendekatan duit lawan duit dalam mana-mana pilihanraya maka kita PAS akan kalah dengan UMNO, kerana UMNO/BN ada berlambak duit judi dari taukeh judi. Kepada semua petugas PAS tidak kira dari mana negeri atau dimana-mana Daerah Mengundi gunakanlah pendekatan kewarasan pemikiran untuk pengundi menolak BN, kerana tugas kita bukan setakat memenangi sesuatu pilihanraya, tetapi tugas kita juga adalah sebagai juru dakwah yang akan membentuk pemikiran rakyat Malaysia memahami apakah tujuan sebenar sesebuah pemerintahan dalam jangka panjang.

Walaupun begitu, adalah tidak salah untuk menghulurkan buah tangan ketika menziarahi mana-mana keluarga yang memang di dapati daif kehidupannya, anak yang terlantar sakit dan sebagainya. Hulurlah sebagai tanda simpati seperti mana kita lakukan diluar waktu musim pilihanraya, yang memang menjadi budaya Islam yang murni. Buah tangan kita, jika dibandingkan dengan rasuah UMNO/BN memang jauh langit dari bumi jaraknya kepada setiap pengundi sasaran, tetapi buah tangan kita itu adalah sebagai tanda persaudaraan dan persahabatan, berilah jangan malu walaupun hanya RM2.00 seorang kepada anak-anak duafak yang kita ziarahi kerumah mereka dengan penuh kasih sayang.

Ayuh, kepada petugas PAS........

Setelah kita bekerja dengan penuh kesungguhan dan displin. Jika senjata terakhir UMNO BN ialah Rasuah Pilihanraya yang dikatakan meningkat sekarang hingga RM1,000 untuk setiap pengundi dan Set TV bagi rumah sasaran. Namun kita ada senjata terakhir kita iaitu doa.

Pastikan setiap pengundi yang telah kita temui, ambil nama mereka dan doalah secara khusus kepadanya untuk ditetapkan hatinya, dimurahkan rezeki dan khususnya mengundi Parti Islam SeMalaysia (PAS) dalam setiap doa ketika selesai solat fardhu kita.

InsyaAllah kita akan mampu pertahankan DUN Galas, walaupun mendapat asakan bertali arus dari jentera BN.

Ku Li telah berkata, "jika PAS menang, maka itu bonus untuk PAS dan jika BN menang maka ia tidak akan merubah apa-apa."

Oleh itu, pastikan Parti Islam SeMalaysia (PAS) meraih bonus tersebut.

Selamat Bertugas kepada yang baru mula bertugas, dan terima kasih kepada mereka yang telah menyelesaikan giliran bertugas masing-masing.